
Kompleks Makam Petta Matinroe Ri Tasi’na berada di Jl. K.H. Agus Salim, Kelurahan Kasimpureng, Kecamatan Ujung Bulu. Makam kuno yang teridentifikasi pada lahan pemakaman tersebut sebanyak sebelas makam yang bercampur dengan makam lainnya yang relatif baru. Material makam terbuat dari papan batu batu padas, membentuk kotak berundak.
Tokoh Petta Matinroe Ri Tasi’na adalah salah seorang keturunan bangsawan asli Bone, (bahasa bugis Maddara Takku) yang pernah memangku jabatan sebagai raja Bone. Nama asli beliau adalah Andi Mappipenning. Ketika terjadi perang antara kerajaan Bone dengan Belanda sekitar abad XIX, dimana berakhir dengan kekalahan Bone, maka Andi Mappipenning tidak mau tunduk dibawah kekuasaan Belanda, kemudian pindah kesalah satu daerah di Bulukumba dengan menggunakan perahu layar. Karena beliau mangkat pada saat perjalanan melalui laut, maka kemudian diberikan gelar Petta Matinroe Ri Tasi’na, yang artinya raja yang meniggal di laut.
Kompleks Makam Petta Matinroe Ri Tasi’na ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.
REKOMENDASI
Berada di Jl. Karaeng Dea Dg. Lita, kampung Lingkungan Jalayya, kelurahan/desa Tana Jaya, kecamatan Kajang. Sistem pembuatan makam Dea Dg. Lita pada bagian depan berbentuk benteng berundak-undak terdiri dari 10 lapisan batu bersusun di dalamnya terdapat beberapa buah makam yang terbuat dari batu padas. Orientasi makam utara-selatan. Ragam hias makam berupa sulur-suluran, kaligrafi dan lontara, dengan nisan bentuk gada, phallus dan menhir dengan tinggi 190 cm dari dasar makam
Berada di Jl. Karepo & Setapak, kampung Bajeng, kelurahan/ desa Gunturu, kecamatan Herlang. Makam ini tipe susun timbun terdiri dari 11 lapisan. Ukuran makam tinggi 1,6 m. Nisan makam ini berbentuk balok persegi empat dengan hiasan sirip ikan, tinggi 1,85 m.Hiasan lain pada nisan ini adalah hiasan kembang, daun dan tulisan arab
Berada di kampung Hila- Hila, Kel/Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro. Makam Datuk Tiro menempati lahan seluas 695 m2, berorientasi utara-selatan, berukuran panjang 2,90 m dan lebar 2 m. Nisannya terbuat dari kayu raja dengan ornamen hias tumpal. Bentuk asli makam ini berupa batu kali yang belum dipahat, disusun membentuk segi empat panjang, memiliki cungkup dan dipagar menggunakan bambu yang telah dianyam. Makam ini telah dipugar sehingga mengalami perubahan.
Sampaikan melalui kanal resmi WBS dan PPID Bulukumba. Setiap laporan dijamin kerahasiaannya dan langsung ditindaklanjuti secara akuntabel.